Syubhat Kaum Nabi Nuh dan Pembunuhan Karakter
Syubhat Kaum Nabi Nuh dan Pembunuhan Karakter adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 28 Sya’ban 1447 H / 16 Februari 2026 M.
Kajian Tentang Syubhat Kaum Nabi Nuh dan Pembunuhan Karakter
Tujuan mereka memunculkan syubhat tersebut adalah untuk membenarkan penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam serta sebagai alasan agar mereka tetap berada dalam kekafiran. Dengan menjelek-jelekkan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, mereka berharap dakwah beliau tidak diterima oleh masyarakat luas.
Syubhat Pertama: Nabi Nuh Sebagai Manusia Biasa
Syubhat pertama yang dilontarkan oleh para pemuka kaum Nabi Nuh adalah status beliau yang hanya merupakan manusia biasa. Mereka menganggap tidak ada keistimewaan yang membuat beliau layak diikuti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perkataan mereka:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا
“Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami’.” (QS. Hud[11]: 27).
Bagi mereka, jika Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah manusia biasa, maka tidak ada perbedaan antara beliau dengan mereka, sehingga klaim kenabian tersebut mereka anggap tidak berdasar.
Jawaban Nabi Nuh Alaihi Salam
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menanggapi syubhat ini dengan tutur kata yang sangat santun. Meskipun kaumnya membangkang, beliau tetap memanggil mereka dengan sebutan “wahai kaumku”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman atas lisan Nabi Nuh Alaihi Salam:
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ
“Dia (Nuh) berkata: ‘Wahai kaumku, apa pendapatmu jika aku memiliki bukti yang nyata dari Rabbku, dan aku diberi rahmat (kenabian) oleh Allah dari sisi-Nya, lalu rahmat itu disamarkan bagi kalian. Apakah kami akan memaksamu menerimanya, sedangkan kamu tidak menyukainya?`” (QS. Hud[11]: 28).
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kemudian menyatakan bahwa keimanan tidak mungkin dipaksakan. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah harus diterima dengan dasar keridhaan, pilihan pribadi, serta kesukarelaan, bukan melalui paksaan.
Nabi Nuh Alaihi Salam menegaskan bahwa keimanan tidak muncul dari paksaan. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar dalam agama sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah[2]: 256).
Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, apakah ingin beriman atau memilih jalan kekufuran, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Dan katakanlah (Muhammad), ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa ingin (kafir) biarlah dia kafir’.” (QS. Al-Kahfi[18]: 29).
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengatakan kepada kaumnya bahwa tidak mungkin memaksa mereka untuk beriman jika hati mereka sendiri tidak menyukainya. Pernyataan ini merupakan jawaban atas syubhat pertama yang menganggap beliau hanyalah manusia biasa. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengakui bahwa secara fisik beliau memang manusia, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelebihan berupa kenabian dan kerasulan untuk mendakwahi mereka agar bertauhid dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Syubhat Kedua: Nabi Harus Berasal dari Malaikat
Kaum Nabi Nuh memunculkan keraguan kedua dengan meyakini bahwa seorang utusan Allah seharusnya berasal dari golongan malaikat (malak), bukan manusia. Mereka berusaha membenarkan penolakan terhadap dakwah dengan berkata:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menurunkan malaikat; kami tidak pernah mendengar (seruan) seperti ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 24).
Mereka beralasan bahwa sejak zaman nenek moyang, tidak pernah ada utusan dari kalangan manusia. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam membantah syubhat ini dengan menegaskan statusnya sebagai utusan resmi dari Allah Rabbul ‘Alamin untuk menyampaikan risalah-Nya:
وَّلٰـكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ
“Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu risalah-risalah Rabbku.” (QS. Al-A’raf[7]: 61-62).
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga menyatakan bahwa tidaklah mengherankan jika peringatan dari Tuhan datang melalui seorang laki-laki dari kalangan mereka sendiri agar mereka bertakwa dan mendapatkan rahmat:
أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa dan agar kamu mendapat rahmat?” (QS. Al-A’raf[7]: 63).
Allah Subhanahu wa Ta’ala turut menjawab syubhat tersebut dalam ayat lain. Sekalipun utusan itu adalah malaikat, Allah ‘Azza wa Jalla akan tetap mengubah wujudnya menjadi seorang laki-laki agar dapat berinteraksi dengan manusia, yang pada akhirnya akan tetap membuat mereka ragu:
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ
“Dan sekiranya Rasul itu Kami jadikan (dari) malaikat, pastilah Kami jadikan dia (berwujud) laki-laki, dan (dengan demikian) pasti Kami akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.” (QS. Al-An’am[6]: 9).
Kedudukan Manusia sebagai Rasul dan Bantahan terhadap Syubhat
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab alasan kaum Nabi Nuh mengenai keinginan mereka agar rasul diutus dari kalangan malaikat. Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan seorang malaikat sebagai rasul, maka Allah tetap akan mengutusnya dalam wujud manusia. Hal ini bertujuan agar manusia mampu melihat dan mendengar perkataan yang disampaikan oleh rasul tersebut sebagai utusan Allah.
Sekalipun Allah mengutus malaikat dalam wujud manusia, kaum tersebut akan tetap meyakini bahwa utusan itu hanyalah manusia biasa. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat sifat-sifat asli malaikat selain bentuk lahiriah yang tampak. Dengan demikian, mereka akan tetap berada dalam keraguan yang sama. Jawaban Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat tegas bahwa meskipun malaikat yang diutus, wujudnya pasti menyerupai manusia, sehingga syubhat yang mereka lontarkan tidak memiliki dasar yang kuat.
Syubhat Ketiga: Pengikut yang Dianggap Hina
Syubhat selanjutnya berkaitan dengan kondisi sosial para pengikut Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Para pemuka kaum tersebut mencela pengikut Nabi Nuh sebagai orang-orang rendahan, miskin, dan lemah yang mudah percaya begitu saja. Mereka menjadikannya alasan untuk menolak dakwah dengan dalih tidak sudi mengikuti seseorang yang pengikutnya dianggap hina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perkataan mereka:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ
“Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja’.” (QS. Hud[11]: 27).
Pembelaan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menjawab syubhat ini dengan menjelaskan bahwa dakwah yang beliau sampaikan didasari oleh keikhlasan tanpa mengharapkan harta atau imbalan dari manusia. Beliau menegaskan bahwa pahala atas dakwah tersebut hanyalah dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga menyatakan tidak mungkin mengusir orang-orang yang telah beriman meskipun mereka dianggap rendah oleh kaumnya. Beliau membela para pengikutnya melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۚ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
“Dan wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepada kamu sebagai imbalan bagi seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabbnya, namun aku melihat kamu adalah kaum yang bodoh.” (QS. Hud[11]: 29).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ . وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai perbendaharaan Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan, bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh mata kamu, ‘Sekali-kali Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu, benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Hud[11]: 30-31).
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menyadari bahwa tindakan mengusir orang beriman hanya demi menyenangkan orang-orang kaya yang sombong adalah sebuah kezaliman.
Sikap membeda-bedakan status sosial merupakan ciri khas orang kaya yang sombong. Namun, banyak pula orang kaya yang rendah hati dan bersedia membaur dengan orang miskin. Dalam berdakwah, tidak diperbolehkan adanya sekat antara si kaya dan si miskin. Dakwah yang memprioritaskan status ekonomi tidak mencontoh para nabi dan tidak sejalan dengan dakwah salafiyyah.
Fenomena di mana orang kaya mendapatkan posisi istimewa di dekat pengajar, sementara orang miskin ditempatkan di posisi jauh atau harus membayar lebih mahal, adalah praktik yang harus dihindari. Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua pihak memiliki tujuan tunggal, yaitu mencari ridha-Nya.
Pandangan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terhadap Keadilan Sosial
Syaikh Abu Islam menjelaskan dalam kitabnya bahwa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berkata kepada kaumnya mengenai ketulusan dakwah beliau. Beliau tidak meminta imbalan harta atas penyampaian risalah Rabbnya. Dengan tidak adanya motivasi harta, pandangan seorang dai terhadap pengikutnya tidak akan terpengaruh oleh kondisi ekonomi mereka.
Bagi Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, orang kaya maupun orang miskin yang menerima dakwah memiliki kedudukan yang sama. Beliau justru membela para pengikutnya yang dianggap hina oleh kaum kafir. Beliau menyadari bahwa mengusir orang-orang beriman hanya karena kemiskinan mereka akan mengundang kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.
Akhlak Pengemban Dakwah
Para dai dan penuntut ilmu seharusnya memiliki pandangan yang lurus, tidak seperti pandangan orang awam yang sering kali terfitnah oleh kemilau dunia. Sangat tidak terpuji apabila seseorang bersikap sangat hormat dan hangat saat bertemu dengan pemilik kendaraan mewah, namun bersikap dingin atau meremehkan saat bertemu dengan orang yang berjalan kaki atau bersepeda tua.
Setiap manusia memiliki hati yang dapat merasakan luka jika diperlakukan secara diskriminatif. Islam mengajarkan untuk memegang tangan mereka, menyapa dengan hangat, dan memberikan perhatian yang tulus tanpa memandang apa yang ada di dalam dompet mereka. Para nabi telah mencontohkan bahwa pengemban dakwah bukanlah pebisnis yang menyambut tamu berdasarkan keuntungan materi.
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam secara tegas menyatakan tidak meminta harta sebagai upah atas penyampaian risalah Rabbnya. Ketulusan inilah yang menjaga kemurnian dakwah dari sekat-sekat sosial dan kepentingan duniawi.
Hakikat Pengikut Para Rasul dan Tantangan dalam Dakwah
Dalam pandangan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, tidak ada perbedaan derajat antara orang kaya dan orang miskin. Ketika kaumnya bertanya dengan nada merendahkan perihal apakah mereka harus beriman sementara pengikut beliau adalah orang-orang hina, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memberikan jawaban yang tegas sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ . إِنْ حِسَابُهُمْ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّي ۖ لَوْ تَشْعُرُونَ
“Dia (Nuh) menjawab: ‘Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka kerjakan. Perhitungan (amal) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku saja, jika kamu menyadari’.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 112-113).
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menegaskan bahwa beliau tidak mungkin mengusir orang-orang yang telah beriman. Tugas beliau hanyalah sebagai pemberi peringatan yang jelas:
وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ . إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku ini tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 114-115).
Dakwah seharusnya tidak dijadikan beban pikiran yang berlebihan. Seorang pendakwah harus menyiapkan hati, menguatkan niat, dan berpegang teguh pada keikhlasan karena banyaknya gangguan serta godaan. Selain itu, seorang dai harus terus belajar dan tidak menyendiri. Bergabung dengan rekan-rekan yang shalih sangat penting agar dapat saling menasihati dan menguatkan, sebab setan lebih mudah menggoda mereka yang eksklusif.
Urgensi Kerjasama dalam Dakwah
Nabi Musa ‘Alaihis Salam memberikan teladan mengenai pentingnya rekan dalam berdakwah. Meskipun beliau telah dianugerahi keberanian, beliau tetap berdoa memohon teman dari kalangan keluarganya, yaitu Nabi Harun ‘Alaihis Salam, untuk memperkuat perjuangannya:
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي . هَارُونَ أَخِي . اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي . وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا. وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا. اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikankanlah dia berserikat ( teman) dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaha[20]: 29-32).
Dhuafa sebagai Penopang Dakwah
Sejarah mencatat bahwa di setiap zaman dan tempat, pengikut para rasul umumnya berasal dari kalangan dhuafa dan fakir miskin. Hal ini dibuktikan dalam dialog antara Raja Heraklius (Herakleus) dan Abu Sufyan mengenai sifat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Heraklius bertanya apakah para pengikut Nabi berasal dari kalangan bangsawan atau orang-orang lemah. Abu Sufyan menjawab bahwa orang-orang lemahlah yang mengikuti beliau. Heraklius kemudian menyimpulkan:
هُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ
“Mereka itulah (orang-orang lemah) para pengikut rasul.” (HR. Bukhari).
Sebaliknya, pihak-pihak yang kerap mendustakan para rasul adalah para pemimpin, orang-orang besar, dan mereka yang terbuai dalam kemewahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (QS. Saba[34]: 34).
Keutamaan Ketulusan dalam Berislam
Sering kali kemenangan dakwah nampak melalui ketulusan orang-orang miskin. Saat menerima suatu perintah syariat, mereka cenderung langsung mempraktekkannya tanpa banyak pertimbangan duniawi. Mereka menegakkan hukum Islam pada diri sendiri dan memenangkan Islam melalui amal nyata tanpa khawatir akan pandangan manusia. Hal ini berbeda dengan sebagian orang yang terlalu banyak mempertimbangkan risiko sosial sebelum menjalankan sunnah.
Oleh karena itu, dakwah tidak boleh disekat-sekat berdasarkan kasta sosial. Meskipun dakwah ditujukan kepada semua lapisan masyarakat, termasuk para pembesar, prinsip kesetaraan harus tetap dijaga tanpa membeda-bedakan status ekonomi pengikutnya.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Syubhat Kaum Nabi Nuh dan Pembunuhan Karakter” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56082-syubhat-kaum-nabi-nuh-dan-pembunuhan-karakter/